Selasa, 26 Januari 2016


Love at first sight in holiday 



Fiuhhh!! Akhirnya sampai juga dirumah nenek. Ketibaanku dirumah nenek bukan dalam memulai liburan atau kunjungan, melainkan kepulanganku dari kampung halaman. Aku tinggal dirumah nenek didaerah Medan, Sumatera Utara sejak mulai masuk SMK, sementara orang tua dan adik bungsuku tinggal di daerah Riau setelah kami sekeluarga berhijrah dan harus meninggalkan kota kembang Bandung setelah lebih dari 15 tahun mendudukinya. Begitulah selalunya aku mengisi liburan sekolahku. Pulang ke kampung halaman dengan menggunakan bus antar provinsi yang memakan waktu kurang lebih 12 jam perjalanan. Terkadang, kalau libur sekolah tidak terlalu panjang, misalnya hanya 5 hari atau 1 minggu, aku juga berkunjung ke rumah nenek yang tidak lain adalah mama dari ayahku. Rumahnya berada tidak terlalu jauh dari rumah nenek yang ku tinggali, hanya berkisar 4 jam perjalanan. Dan, dari sanalah mulanya cerita ini.. :)

"Brrrrrr..." Udara sejuk mencekam langsung terasa menusuk tulang dipagi hari. Yapp!! Memang didaerah rumah nenekku ini udaranya sangat dingin. Hari pertama dikampung nenek, setelah lelap tidur karena kelelahan dalam perjalanan tadi malam, akhirnya tidurku sangat lelap. Beberapa kali juga aku dibanguni oleh nenek namun aku malas untuk beranjak dan justru memperketat selimut yang ku pakai.
"Bou, buatin kopi dong! Katanya kopi buatan sini enak" Ujarku seraya duduk disamping bouku yang sedang duduk diperapian dapur. "Ah kau ini malas kali, baru bangun, minta dibuatkan kopi pulak!" Jawab bouku dengan logat bataknya. Akhirnya ku buat sendiri kopi yang aku request tadi, lalu duduk diserambi rumah nenekku sambil menemaninya menikmati sarapan dengan lamunan panjangnya.
"Opung..mikirin apa?" tanyaku  lembut
"Ahh gak mikirin apa-apa.." Jawabnya seraya tersenyum
Aku langsung megiyakan sambil menerka bahwasannya dia pasti sedang merindukan suaminya, yaitu kakekku yang sudah meninggal sejak aku SMP.
Tiba-tiba percakapan kami terputus diserbu kedatangan segerombolan lelaki seumuranku yang sama sekali tidak ku kenali sedang berjalan memasuki halaman rumah nenek.. ehh tapi aku melihat sosok abang sepupuku dibarisan belakang. Aku yakin mereka pasti teman-temannya. Dan, firasatku benar. Mereka dengan seenaknya masuk ke rumah sambil menyapa nenekku dengan wajah sok imut.. "Pung..Udah makan?" Namun sapaan mereka tidak digubris sama sekali oleh nenekku, entah karena malas ataupun karena pendengarannya yang semakin kurang..
"Pung, siapa mereka?" Tanyaku heran
"Mereka itu teman-teman abangmu, hampir setiap hari nongkrong disini." Jawabnya seraya meneguk secangkir kopi hangat.
"Lho? Memangnya rumahnya dimana?" Tanyaku sambil mengerutkan dahi
"Daerah sini juga kok, itu yang baju merah sama biru, rumahnya didepan situ.." Katanya sambil menunjuk ke arah sebuah rumah diseberang lapangan.
"Kalo yang pake jacket hitam itu rumahnya dikampung sebelah.." Lanjut nenekku
Aku hanya menganggukkan kepala seraya mengosongkan isi cangkirku lalu masuk ke rumah untuk membantu bou masak.

Setelah selesai tugasku membantu bou masak, aku beranjak ke ruang tengah, sambil ku pantau sekelilingku yang seperti kapal pecah. Gelas bekas kopi, puntung dan abu rokok serta sampah lainnya berserak diatas meja, bahkan vas bunga nan cantik yang menghiasi meja tersebut terlihat kotor berdebu serta berbau rokok. Issshhh.. ini pasti kerjaan gerombolan laki-laki tadi, sekarang mereka entah sudah pergi kemana..
Aku membersihkan isi rumah, menyapu, membuang sampah, mengepel hingga mengelap kaca jendela, sementara bouku mencuci pakaian dikamar mandi. Sementara aku sedang mengelap kaca jendela, tiba-tiba datang seorang anak lelaki yang rasanya juga sebaya denganku, dengan motor hitam yang masih ditungganginya dia berhenti didepan rumah nenekku, sekilas dia terlihat bingung memandangku, begitu juga denganku..
"Hey, Andri ada?" Sontak pertanyaannya memecah lamunanku
"Emm..Gak ada" Jawabku sambil mengelap kaca dan berusaha bersikap netral kembali
"Kemana?" Tanyanya lagi..
"Gak tau.."  Jawabku setengah berteriak.
Lalu dia menyalakan mesin motornya dan pergi.
Entah kenapa aku merasa penasaran dengannya..

***
Rasa dingin dimalam hari terasa lebih mencekam dari pagi hari, ku pakai jacketku, lalu duduk diruang tengah sambil mendengarkan nenek dan bouku yang menceritakan masa kecil ayahku. Lalu rumah terasa ramai lagi dengan kedatangan segerombolan anak lelaki yang sudah mengotori ruang tengah tadi pagi. Namun ada seorang lelaki yang membuat mataku berhenti berkedip, dia adalah lelaki yang datang menggunakan motor pagi tadi. Lalu dia juga melihat ke arahku dan aku langsung memalingkan pandanganku ke arah handphoneku sambil berpura-pura mengetik sesuatu. Salah seorang dari mereka menghidupkan televisi sementara yang lainnya melebarkan sehelai karpet tipis dilantai ruang tengah, ku lihat abang sepupuku menjinjing beberapa buah bantal dan selimut. Akankah mereka bermalam disini? Termasuk lelaki itu?

***
Lagi-lagi aku malas untuk bangun dipagi hari, ku dengar nenekku sudah mengomel-ngomel sambil berusaha menarik selimut yang ku kenakan, yahh terpaksa aku harus beranjak dan menuju kamar mandi. Ku langkahkan kakiku melewati pintu kamar dan betapa kagetnya aku, melihat gerombolan lelaki yang bermalam dirumah nenekku sudah bangun dan sedang menikmati sarapan..Aku langsung membelalakkan kedua mataku yang masih bengkak seraya berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Issshh..cewek bangunnya jam segini" Ledek abang sepupuku yang langsung mengundang tawa dan senyum mengejek dari kesemua teman-temannya, dan ku lihat ternyata dia pun menertawaiku, ahh malunya -_-
Aku berlalu tanpa menggubris ledekan abang sepupuku tadi sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10.00 WIB.

Ku lihat piring, gelas dan perabotan lainnya tertumpuk kotor didapur, dengan sedikit kesal aku menggulung lengan bajuku dan mencuci kesemuanya.
"Bou, kenapa sih mereka tinggal disini? Liat nih pada minum kopi nggak dicuci" Gerutuku
"Bou udah sering nasehatin mereka, kalo main ke rumah boleh tapi jangan ngotorin, mereka gak mau denger" Jawab bouku yang sedang masak.
Aku melanjutkan ritual mencuci piringku hingga tiba-tiba seorang lelaki muncul disampingku.. "Hehe, minta tolong ya cuciin ini boleh kan? Ini bukan punya aku, punya temenku yang itu tuh, dia takut bilang sama kamu"  Kata lelaki tersebut dan dia adalah lelaki ituuuuu. Aku terdiam sejenak, mungkin wajahku sedikit memerah.. "Emm..Taro aja disitu, lain kali tuh cuci kalo abis dipake" Jawabku tanpa melihat wajahnya.
"Iya..iya sorry bos" Jawabnya seraya membalikkan badan. Tanpa ku sadari aku senyum-senyum sendiri hehe
Selesai aku mencuci piring, aku menata piring-piring ke dalam almari piring, lalu lelaki yang masih belum ku ketahui namanya itu pun berlalu lagi dari hadapanku bermaksud untuk ke kamar mandi. Tiba-tiba "Praaaanngg!!" Aku menjatuhkan sebuah gelas yang tadi diantar oleh lelaki itu.
"Aduuuuhhh.. Makanya jangan ngeliatin aku terus dong" Kata lelaki itu sambil tersenyum.
Whattt??!! How can he know? Atau dia cuma iseng bilang begitu?
"Ehh..Enak aja, siapa juga yang ngeliatin yeee.." Jawabku sambil membersihkan pecahan kaca tersebut. Sambil membuang pecahan kaca tersebut, senyum terulas dibibirku.

***

Hari berlalu begitu cepat, setiap hari dengan kegiatan yang sama dan orang-orang yang sama. Semakin hari, rasanya aku pun sedikit akrab dan berbaur dengan teman-teman abang sepupuku yang setiap hari nongkrong dirumah nenekku. Dan dia, namanya Joe. Dia sebaya denganku, yang lainnya pun sama, hanya beberapa orang saja yang sudah menamatkan sekolahnya. Dia orang yang asyik, suka bercanda dan ramah. Tidak sungkan juga mereka memanggil namaku walau aku selalu memanggil mereka "Hey, heh atau woi". Hari ini hari terakhirku dirumah nenek, besok aku akan kembali ke rumah nenekku yang menjadi rumah kostku untuk melanjutkan rutinitas sekolah. Hari ini, nenek menyuruh semua orang dirumah bekerja bakti, termasuk abang sepupu dan teman-temannya untuk membersihkan halaman, rumput disamping rumah dan parit yang terletak didepan rumah. Nenek menyuruhku untuk tidak ikut tapi dia menyuruhku memasak dan menyediakan makanan untuk makan siang mereka. Aku pun bersemangat untuk memasak mie goreng special bagi mereka.
Ku sediakan alat dan bahan, ku cincang, ku goreng, ku rebus semua bahan tersebut dengan semangat sambil menyanyi dan bersiul kecil. Aku juga menolak tawaran bantuan dari bouku. Sebelumnya aku pernah bahkan sering memasak mie goreng dan selalu mendapat pujian untuk rasanya. Kali ini aku akan masak dengan bahan yang belum pernah ku campurkan sebelumnya, berharap rasanya lebih lezat, mendapat pujian dari mereka, melihat wajah kenyang dan puas dari mereka. "Uhh..Aku akan berbangga dengan skill memasakku dihadapan mereka nanti" pikirku

Kerja bakti pun berakhir, saatnya makan siang. Aku dan bou menyiapkan masakanku tadi  diruang tengah. Ku lihat mereka telah berkumpul dengan wajah kelaparan.
"Ummm..Pasti enak nih, wanginya aja udah bikin ngiler" Puji seorang dari mereka
"Yaiyalah..Gue gituloh" gumamku..
Yupp..1..2..3.. Satu persatu dari mereka mulai mencicipi dan...
Ku lihat mereka saling bertatapan sambil berhenti mengunyah.
"Rasa apa ini?? Aduuuhhh" Kata abangku
Aku kaget, lalu ku cicipi mie goreng yang ada dipiring bouku. Ku lihat nenekku terbatuk-batuk disudut sana. Ohh ternyata aku lupa memasukkan garam&penyedap. Tapi aku menumpahkan banyak serbuk lada putih didalamnya. Oh my God!
"Alaaaahh..yang penting kenyang. Makan aja" kata Joe membangkitkan sedikit semangatku. Aku tidak tega melihat mereka memakan mie goreng ciptaanku yang ku racik dengan bumbu rahasiaku itu. Aku hanya duduk dan terdiam lesu menunggu mereka selesai makan. Tak lama, semua sudah mengumpulkan piring masing-masing dan tidak ada 1 piring pun yang kosong. Mie ku tidak habis huuuuuaaaaa ;(
"Yaaahh.. akhirnya kenyang juga! Makasih ya, enak mie nya" Kata salah seorang dari mereka
"Katanya kamu pinter masak. Enak apanya ini?" Kata abangku sambil tertawa. Dan mereka pun tertawa sambil membersihkan piring-piring kotor. Daripada aku merasa terpojokkan, disela-sela tawa mereka aku pun ikut tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sebenarnya aku pun merasa lucu, apalagi saat melihat ekspresi mereka yang kelaparan tiba-tiba berubah hahaha tapi 1 orang lagi yang berhasil memulihkan senyumku adalah pujian rekayasa dari mereka, juga yang membuat aku bahagia adalah kami bisa tertawa bersama.

***

Aku meratapi tasku yang menggembung berisi pakaian dan segala macam peralatan juga oleh-oleh yang telah dibungkusi oleh nenekku. Yapp!! Aku sedang menunggu jemputan yang akan mengantarkanku pulang ke tempat asalku. Sore ini rumah nenek sepi, tak ada orang selain nenek dan bouku. Pengisi rumah nenek memang tinggal mereka berdua, nenekku sudah janda, bouku belum menikah dan semua saudaraku yang lain sudah berkeluarga dan memilih untuk merantau. Ku cari disekelilingku, Joe, abang sepupuku dan teman-temannya yang selalu nongkrong dirumah nenek, tak kelihatan batang hidungnya. Aku mengingat kejadian-kejadian yang lucu selama seminggu ini, apalagi acara makan siang kemarin yang berjalan tidak sesuai rencana namun membuatku bahagia. "Tiitttt..tittt" Klakson mobil jemputanku telah tiba. Ini bukan pertama kalinya aku mengunjungi rumah nenekku ini, namun entah kenapa liburan kali ini rasanya sangat berat melangkahkan kaki untuk pulang.
Ku salami tangan nenekku yang sudah berkeriput, juga tangan bouku. Aku melambaikan tangan lalu masuk dan duduk ditepi jendela mobil. Dan mobil pun melaju perlahan melewati rumah-rumah, persawahan dan perkebunan..aku menyandarkan kepalaku dan mulai terkenang tentang Joe. Apakah aku jatuh cinta?
whatttt??? Ya aku tahu ini sedikit berlebihan. Perjumpaan yang sesingkat ini bisa saja menjadi momen indah diantara teman-teman baru, namun untuk cinta? Entahlah

***

Sungguh membosankan, hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur karena latihan ujian nasional kakak kelas 12. Guru-guru rasanya lebih mementingkan mereka, sehingga tidak banyak mata pelajaran yang kami ikuti hari ini. Aku mengambil handphone ku yang daritadi ku simpan didalam tasku. Log in facebook, berharap ada hal-hal seru atau gosip-gosip yang menarik untuk dicerna. Aku melihat Friend Suggestion List dan iseng-iseng membuka satu persatu profile yang ada. Dan aku menemuka 1 nama yang membuatku exited untuk melihat profile nya, Joe Mahendra S. Wow!! Aku mendapatkan Facebook ID nya, dengan segera aku mengirim friend request padanya, berharap dia accept, then..kami chatting-an, sms-an, telponan, liburan nanti ketemuan lagi terus pacaran. Hahaha
Tak lama, muncul 1 friend request untukku, aku melihat siapa yang ingin menambahkanku sebagai temannya ini, ternyata dia adalah salah seorang teman abang sepupuku. Aku pun menerimanya. Kami mulai mengobrol lewat chatting. Dan berlanjut dia meminta nomor handphone-ku.
Sementara aku masih menunggu Joe menerima permintaan pertemananku, teman-teman abangku yang lain satu per satu mulai menambahkan aku sebagai teman di Facebook. Aku bertanya-tanya "mengapa Joe belum menerima permintaanku sementara teman-temannya yang lain sudah sering menchatting, sms dan telepon aku..?" Aku hampir patah hati hahaha.

Seminggu lebih berlalu, aku lebih akrab dengan teman-teman abangku, seringkali mereka mengirimi pesan-pesan lucu, menanyakan kabarku dan meneleponku. Hampirlah aku terlupa dengan Joe.
Aku kembali membuka laman Facebookku dan ku lihat Joe sudah menerimanya. Dia mengirim pesan lewat dinding Facebookku "Thanks for add, do you still remember me?" Wooowww i'm so happy.
Sama halnya seperti teman-teman yang lain, kami mulai chatting. Sejauh ini, belum ada permintaannya untuk meminta nomor handphone-ku, uuhhh haruskah aku yang memintanya? Aku sangat ingin mendengar suaranya, tawanya lagi hehehe.
Semua tidak bisa dilakukan secara terpaksa, biarlah semua berjalan seperti adanya. I'm still young. Aku tidak mau membebani pikiranku dengan hal-hal yang mungkin bisa mematahkan semangat juga hatiku :)
Tidak terlalu sering kami berkomunikasi tapi kalau aku mendapat pesan darinya, aku bahagia :D
Aku pun tidak sabar menunggu liburan berikutnya. Mungkin libur semester tahun ini aku akan menunda kepulanganku ke kampung halamanku sendiri di Riau, aku akan meyakinkan orang tuaku bahwa aku rindu dengan nenek dan bouku, aku juga ingin berziarah ke makam kakekku disana. Semoga saja aku bisa bertemu dengan Joe dan teman-teman baruku yang lainnya.
Aku masih belum mengerti mengapa aku lebih penasaran dengan Joe dan lebih merasa bahagia jika mendapat pesan darinya dibanding dengan yang lain.. Tapi, aku berusaha untuk meyakinkan mungkin aku hanya mengaguminya karena dia seorang yang ramah dan humoris.
Joe, and all friends!! Wait me there next holiday! :) :) :)

SEKIAN 


Note :
*Opung : Nenek
*Bou     : Bibi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar